Sejarah Persija Hingga Menjadi Klub Terbesar Tanah Air

Awal Berdiri Voetballbond Indonesia Jacatra

Klub sepak bola tanah air Persija berdiri pada tahun 1928 ini memiliki sejarah perjalanan yang cukup panjang. Dan bertahan hingga kini sontak menjadi salah satu klub sepak bola tertua di Indonesia. Terlepas dari pasang surutnya persepakbolaan di tanah air ini Persija juga menorehkan sederet prestasi bisa dibanggakan.

Pencetus berdirinya klub ini pertama kali bernama Setiaki alias Soeri dan Alie pada tanggal 28 November 1928, pertama kali bernama Voetballbond Indonesia Jacatra atau VIJ. Jelas nama tersebut masih berbau bahasa Belanda, karena pada tahun tersebut kolonial Belanda masih berkuasa atas pemerintahan Indonesia.

Nama tersebut bertahan hingga 22 tahun lama nya yang kemudian pada tahun 1950 nama tersebut diganti menjadi Persija. Nama tersebut kependekan dari Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta. Dan saat itu juga diresmikan sebagai klub sepakbola yang bermarkas di Jakarta Pusat.

Yang menjabat sebagai ketua Persija tersebut pada tahun 1950-an tersebut adalah Bapak Jusuf Jahja, pemain-pemain yang memperkuat nya pada saat itu masih banyak campuran dari pemain-pemain belanda hingga pemain tionghoa seperti Van der Vin, Tan Liong Houw, Van der Berg, Chris Ong, hingga Thio Him Tjiang.

Era Kolonial Berakhir Era Perserikatan Dimulai

Era Kolonial pemerintahan Belanda telah berakhir kini saat nya masuk ke era perserikatan, klub sepak bola Persija masih bertahan dan berkembang menjadi klub yang cukup disegani dan menyabet 5 gelar trofi. Pada tahun tersebut lah klub Persija sudah membuktikan eksistensi nya menjadi jawara di Indonesia hingga tahun 1979.

Pasang-surut juga sempat dirasakan oleh klub Persija diterpa berbagai masalah dan kesulitan utamanya di sektor finansial. masalah pendanaan sempat dialami oleh Persija saat bidang olahraga sepakbola tidak lagi mendapat pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sampai-sampai semua pemain telat gajian.

Stadion Kandang Markas Persija

Dimulai dari bermarkas di Stadion Petojo selama 20 tahun dan kemudian berpindah-pindah hingga akhirnya ke Senayan sudah dialami oleh Persija. Tempat tersebut merupakan saksi bisu perjuangan serta berkembangnya klub Persija. Tercatat klub tersebut pernah bermarkas stadion Lebak Bulus dan stadion menteng. Perpindahan stadion tersebut dipengaruhi oleh tata kota Jakarta yang terus berubah.

Macan Kemayoran kini menduduki Stadion Gelora Bung Karno sebagai markas besar, sambil menunggu Stadion BMW selesai dibangun di Jakarta Utara. Persija juga dijuluki klub musafir karena terus berpindah pindah tempat mulai Stadion Patriot Bekasi, Wibawa Mukti Solo. Hingga Bantul pernah menjadi markas yang disinggahi Persija.

Rekor Jumlah Penonton Terbanyak

Klub Persija juga pernah membukukan rekor jumlah terbanyak penonton saat bertanding di piala AFC, ketika bertanding melawan Johor Darul Ta’zim pada 2018 silam. Jumlah penonton sebanyak 60.157 orang di Stadion GBK. Rekor tersebut mengalahkan catatan rekor piala AFC yang dipegang saat Al Ittihad saat melawan Qadsia FC pada Final pada tahun 2010.

Terlepas dari sejarah jatuh bangunnya Persija, klub tersebut terus membesut pemain-pemain terbaik Indonesia. Mulai dari zaman kolonial dari Liong Houw, Aliandoe, Soentoro, Iswadi Idris hingga zaman sekarang kita kenal dengan Bambang Pamungkas.